fbpx

Pers Bekerja untuk Rakyat, Bukan untuk Melayani Pemerintah

Populer

spot_img

Penulis Muchlis Abduh

ZONAKATA.COM Malam itu Katherine Graham yang diperankan Meryl Streep sangat gelisah, semua jajaran direksi dan berpengaruh menunggu keputusannya. Lewat sambungan telepon, sebuah keputusan bersejarah harus ia buat.

Katherine yang notabene merupakan pemilik perusahaan Washington Post harus berhitung tepat, jika ia “meloloskan” liputan terkait Pentagor Paper – sebuah artikel yang memuat cerita kebohongan Pemerintah AS terhadap kebijakan perang di Vietnam-maka ia bisa terancam di mejahijau-kan.

Sebaliknya, jika ia tidak memuat artiket tersebut, maka perusahaan media miliknya akan dianggap menggadaikan profesionalitas dan integritas.

Setelah mendengar semua masukan via sambungan telepon, akhirnya Katherine memilih menghadapi risiko di mejahijaukan. Alasannya pers tidak boleh didikte oleh pemerintah.

Tapi cerita tidak berhenti di situ, menjelang deadline untuk mencetak koran, Ben Bradle yang diperankan Tom Hanks yang merupakan pemimpin redaksi Washington Post menemui langsung Kahterine.

Ia sedikit ragu jika liputan diturunkan padahal awalnya dialah tokoh yang paling awal mendukung. Penyebab keraguan Ben karena narasumber tempat dokumen diambil berasal dari sumber yang sama yak dengan The New York Times. Koran yang lebih dahulu mendapatkan peringatan untuk menghentikan pemuatan berita “Pentagon Papers”.

Sekali lagi, Katherine dibikin pusing. Ia kini betul-betul berada di ujung tanduk. Peluangnya untuk dipenjara semakin besar. Namun akhirnya ia tetap ngotot dengan keputusannya untuk memuat liputan itu.

Keesokan pagi setelah berita dimuat, warga AS dari seluruh penjuru turun ke jalan. Mereka menentang penuh keputusan perang terhadap Vietnam. Apalagi setelah melihat dalam catatan “Pentagon Papers” yang diungkap di Washington Post menyebutkan peluang menang sangat kecil.

Keputusan melakukan perang hanya diambil karena ingin menyelamatkan muka Pemerintah AS dan meneguhkan diri sebagai negara adi
kuasa.

Pemerintah AS tentu saja geram. Dokumen yang sangat dirahasiakan ternyata kini diketahui secara luas dan mencoreng muka pemerintah.

Tidak disangka, keputusan berani dari Washington Post untuk menerbitkan liputan itu juga diikuti oleh seluruh koran. Di sepanjang tangga menuju pengadilan, spanduk bertuliskan “Freedom Pers” dipajang.

Artinya Washington Post tidak sendiri, dan kepercayaan diri menjadi meningkatkan dan kekuatan menjadi berlipat ganda.

Setelah pengadilan melakukan voting terhadap hakim, hasilnya 3 banding 6. Artinya 3 orang hakim tetap kukuh memenjarakan Washington Post dan koran lain yang memuat “Pentagon Papers” dan 6 hakim lainnya menyatakan pers punya kebebasan dalam mempublikasikan, meski itu merupakan dokumen rahasia negara.

Salah satu hakim yang mendukung kebebasan pers mengatakan “Founding Father AS telah mengatakan bahwa pers bekerja untuk rakyat, bukan untuk melayani pemerintah,” Tangis haru dan bahagia. Kemenangan bagi kebebasan pers.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Serius Hadapi Pilkada Tana Toraja, Zadrak Tombeg Daftar di Gelora

ZONAKATA.COM - TANA TORAJA  Setelah mendaftar di Partai Demokrat, PDI Perjuangan dan Partai Nasdem, Zadrak Tombeg juga mendaftar di...

Berita Lain