fbpx

Cita Rasa Kopi Istimewa di Warkop Sempit Gandrial

Populer

spot_img

Oleh: Rachmat Ariadi

Awal tahun 2022. Toraja menjadi daerah lingkungan kerja baru. Siapa sangka, wilayah yang sangat jarang saya kunjungi ini akan masuk masuk catatan sejarah dalam hidup saya sendiri.

Tiba di Kota Makale, Tana Toraja, kawan seprofesi saat itu mengajak ngopi di salah satu warkop yang terkenal kopinya enak di Makale, Gandrial Coffee. Tempatnya kecil, meja untuk pengunjung hanya 4, terbuat dari kayu, menunya hanya kopi saja dan baristanya cuma satu orang. Dia juga juga yang menjadi pelayan. Saya heran, warkop ini selalu ramai dikunjungi banyak orang. Semakin penasaran bagaimana cita rasa kopinya.

“Kalau mau minum kopi di Toraja, di sini paling enak. Meski pun tempatnya sempit, tapi kopinya tidak ada tandingan,” ujar kawan saya bernama Jufri saat itu.

Duduk di kursi kayu sekilas mirip bangku sekolahan. Seorang pria dengan senyuman yang ramah, rambutnya agak kribo menghampiri meja saya. Bermaksud untuk menawarkan pesanan yang akan dihidangkan. Sebenarnya saya bukan penikmat kopi, tapi beberapa hal yang saya pelajari dari teman saya barista, kalau ingin mengetes warung kopi yang enak, cicipi kopi hitamnya dulu.

“Kopi hitam bang. Kalau ada arabika boleh,” tegas saya.

“Oke siap,” jawab pria itu.

Sambil menunggu hidangan kopi, saya memulai pembicaraan dengan Jufri. Menggali informasi tentang isu hangat di Toraja saat ini. Benar, sebagai jurnalis diwajibkan melakukan observasi dahulu sebelum melakukan peliputan di daerah, apalagi Toraja adalah daerah yang baru pertama kali saya kunjungi.

Jufri mengatakan, isu di Toraja ini sangat kompleks. Mulai dari budaya, ekonomi, pariwisata, politik, pemerintahan, hingga sosia. Saya pun semakin tertantang. Namun kendala berat yang saya alami saat ini adalah bahasa. Duh, sangat kontras dengan bahasa bugis.

“Nah, makanya di warkop ini sebenarnya sudah menjadi basecamp jurnalis Toraja sejak lama. Ya karena di sini biasa ngopi orang politik, ASN sampai kontraktor itu kumpul di sini. Biasanya kita dapat info awal dari sini, baru kita tindak lanjuti,” jelasnya.

Mendengar penjelasan Jufri, saya semakin tidak paham. Pasalnya, beberapa daerah yang telah saya kunjungi, orang-orang yang berkecimpung di dunia politik dan ASN misalnya memiliki tempat sendiri. Apalagi kehadiran kontraktor dan jurnalis. Apakah mereka tidak saling mencurigai di ruang sempit itu.

Tiba-tiba suara langkah kaki pria yang tadi mendekati. Memegang cangkir putih berisi kopi hitam pesanan saya di tangan kanannya, sementara tangan kirinya menggenggam asbak kaca yang telah dibersihkan. Belakangan, saya ketahui pria kribo tersebut adalah pemiliki warkop mini itu, namanya Pingki.

“Tabe’ ini kopinya, silahkan,” ucapnya sambil meletakan cangkir kopi dan asbak.

Sruuuuuuutttttt. Ku seruput kopi buatan Pingki layaknya penikmat kopi profesional.

Indra pengecap ku tiba-tiba kaku. Mata yang kurang tidur setelah perjalanan 3 jam lebih ke Toraja seketika melek. Tanpa sadar tanganku langsung mengeluarkan kretek. Membakar, dan menghisapnya sangat dalam. Sangat nikmat.

Bagi Pingki, membuat kopi hanya untuk meluapkan hobinya sejak dulu. Di samping itu, dia punya misi menyatukan pelbagai profesi di warkop kecilnya, sambil mengetahui apa yang sedang terjadi Toraja.

“Tidak ada treatment pemasaran yang khusus. Saya cuma membuat kopi, pelanggan yang menikmatinya. Kalau mereka suka, pasti besok datang lagi, sesimpel itu,” lugasnya.

Di tengah gempuran puluhan bahkan ratusan warkop di Toraja yang memamerkan ruangan kekinian atau anak jaman sekarang menyebutnya Instagramble, warkop Gandrial ala Pingki masih sangat eksis dan digemari banyak.

Bertema retro atau lebih apa adanya. Warkop Gandrial lebih mengedepankan kualitas dan cita rasa kopi estetik. Bagi penikmat kopi yang profesional sekali pun pasti sangat puas. Salam serupuuutttt.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Tutup Pendaftaran, Partai Hanura Enrekang Bakal Proses 4 Bacabup

ZONAKATA.COM - ENREKANG Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) resmi menutup pintu pendaftaran bakal calon Bupati Enrekang, Minggu 19 Mei...

Berita Lain