fbpx

Pemilihan Kepala Daerah dan Kepemimpinan Toraja

Populer

spot_img

Oleh: Semuel Rianto Tappi’
(Anggota KPU Toraja Utara periode 2023-2028 – Kadiv Teknis Penyelenggaraan)

Pemungutan Suara Pemilihan Kepala Daerah Serentak Tahun 2024 di Kabupaten Toraja Utara, sudah didepan mata. Rabu, 27 November 2024, Pemilih yang tersebar di 151 Lembang/Kelurahan dari 21 Kecamatan dengan perencanaan 422 TPS di Toraja Utara akan menunaikan hak pilihnya.

Demokrasi dan Pemilihan Kepala Daerah seperti rantai yang saling berhubungan satu sama lain. Pilkada merupakan wujud dari demokrasi, sementara demokrasi akan terbangun diawali dari keterlibatan masyarakat dalam memilih pemimpinnya sendiri melalui Pilkada.

Sementara itu, Pilkada harus dilaksanakan secara demokratis dimana semua hak rakyat untuk dipilih dan memilih dapat terpenuhi tanpa adanya diskriminasi pada sudut apapun.

KEPEMIMPINAN TORAJA

Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang yang menerapkan prinsip dan teknik yang mendorong motivasi, kedisiplinan, produktivitas. Sosok pemimpin bagi suku Toraja harus seorang yang mampu mensejahterakan rakyatnya.

Olehnya, terdapat empat kriteria berdasarkan adat yang harus dimiliki agar pantas menjadi Kepala Daerah, yakni kemampuan atau kapabilitas (Bida, Barani dan manarang, sikap arif atau Kinaa, kaya atau Sugi’.

Pada kondisi ini adat cenderung mengatur orang Toraja untuk memilih pemimpin daerahnya dalam konteks sosial dan budaya. Dalam sistem pemilu, adat mengalami penyesuaian fungsional. Namun, karena suku Toraja telah mengklaim daerahnya sebagai tanah yang suci, maka pemimpin mereka haruslah sesuai dengan preferensi suku Toraja.

Seorang pemimpin dalam kepemimpinan tradisional Toraja, harus memiliki nilai-nilai etis moral yang harus dijalankan dalam kepemimpinannya. Nilai-nilai kepemimpinan tradisional orang Toraja disimak baik dalam tugas atau fungsinya maka gelar pemimpin, merupakan simbol pengemban nilai-nilai ideal masyarakatnya.

Nilai yang mendasar itu ialah nilai moral yang disebut kinaa sebagai simbol dari nilai etis moral yang harus melandasi sikap hidup seorang pemimpin dan pemberi makna terhadap nilai-nilai lain yaitu manarang, barani dan sugi.

Bida, seorang pemimpin Toraja harus Bida atau Bija, artinya turunan dari kalangan bangsawan. Namun tidak cukup hanya karena garis keturunan bangsawan atau pun To Patalo, ada proses latihan-latihan dimana menempah diri, dan mengasah keterampilan.

Sugi, seorang memimpin Toraja harus sugi’ (kaya), Nilai  kekayaan orang Toraja tercakup dalam diri manusia, hewan dan tanaman (lazim disebut falsafah Tallulolona). Seorang pemimpin tradisional Toraja oleh tuntutan zaman mesti kaya, dimana Tongkonan sebagai simbol pemersatu juga merupakan simbol kekayaan seorang Pemimpin.

Keberadaan Tongkonan yang disebut Tongkonan Pa’buntuan Sugi’ pada masa paceklik menjadi sumber berkat bagi masyarakat sekitarnya, terutama menolong yang lemah.

Manarang dan Kinaa, orang yang pandai disebut To Manarang atau To Pande artinya mahir. Kepandaian sangat dibutuhkan oleh pemimpin, dibutuhkan untuk mengatur masyarakat dan wilayahnya.

Namun kepandaian membutuhkan nilai-nilai Kinaa atau kebijaksanaan, kearifan, budi pekerti dan kedalaman hati. Kinaa itu menjadi nilai utama dari kepemimpinan Toraja.

Barani, seorang pemimpin harus memiliki sikap tegas menjalankan dan menegakkan aturan, selain itu orang Toraja dimasa lalu konon saling berperang antara satu kampung atau wilayah, demikian juga dengan adanya ancaman dari luar Tondok Lepongan Bulan Lipu’ Matariallo.

Sehingga sosok pemimpin Toraja pada dirinya juga menjadi tokoh yang diandalkan oleh masyarakatnya. Dalam konteks masyarakat Toraja seorang pemimpin memainkan peran dan fungsi legislatif, ekskutif maupun yudikatif. singkat kata, ia berfungsi untuk memelihara, melaksanakan dan menegakkan adat dan aluk/kepercayaan.

Sebenarnya yang perlu diperhatikan adalah nilai-nilai yang diturunkan dari adat. Kriteria pemimpin yang dimiliki oleh masyarakat Toraja tentunya bukan hal yang negatif atau salah. Justru hal tersebut harus ditafsir ke kerangka yang lebih baik.

Tetapi menjadi pemimpin yang peduli akan kebutuhan rakyat. Menurut Dr. Phil Sukri, M.Si merupakan Dekan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin “Ketorajaan artinya orang Toraja itu berpikir bahwa orang yang memimpin adalah orang yang harus sesuai dengan nilai-nilai dasar kami“, sehingga tidak masalah adat menjadi sumber preferensi perilaku”.

Kesimpulan

Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah harus bisa membangun iklim dan jiwa demokrasi di daerah. Terbentuknya iklim demokrasi lokal akan menciptakan kehidupan politik masyarakat daerah terarah dan tentunya akan terbangun keterlibatan aktif masyarakat dalam membangun daerah.

Semakin maju suatu daerah maka akan semakin baik dalam membentuk peradaban bangsa karena peradaban bangsa dimulai dari komitmen masyarakat lokal melalui kearifan lokal yang dilestarikan dan dijaga melalui demokrasi lokal.

Berikan hak memilih kepada pemilih sesuai dengan pilihan dan aspirasi pilihannya, masyarakat memilih sesuai hati nuraninya, siapa calon pemimpin yang dianggap amanah, bisa menggerakkan masyarakat dan pembangunan selama lima tahun ke depan.

Pesta demokrasi yang notabene adalah milik rakyat, jangan sampai dirusak oleh tindakan dan perbuatan yang justru meracuni demokrasi itu sendiri.

Karena diharapkan semua pihak yang terlibat dalam Pilkada, ikut bersama-sama mewujudkan pesta pemilihan yang bermartabat. Pemilihan yang bebas dari ujaran kebencian, fitnah, berita bohong dan tuding menuding tanpa dasar. Apalagi pemungutan suara tinggal menghitung hari, semua pihak harus menahan diri.

Bersama-sama menciptakan situasi yang sejuk. Sehingga pemilih bisa menunaikan hak pilihnya dengan riang gembira. Memberi kesempatan pada pemilih menjadi juri bagi dirinya sendiri, siapa pemimpin yang mereka anggap amanah.

Seorang pemimpin daerah bukanlah pemimpin yang memiliki karakter untuk meminta dilayani, melainkan pemimpin yang berhati pelayan dan mau merendahkan hatinya untuk menghadapi pelayanan yang berat. Seorang pemimpin harus memiliki integritas yang kuat dan harus bertanggung jawab dalam segala keputusannya, karena ia harus menjadi teladan.

Nilai-nilai etis dalam kepemimpinan tradisional Toraja dapat digunakan dan dipedomani dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah secara khusus memilih pemimpin. Sebagai Kepala Daerah, pemimpin harus mempertahankan integritasnya dan selalu mengandalkan Tuhan.

Menjadi seorang pemimpin bukanlah suatu hal yang mudah karena ada beban pelayanan yang berat yang harus dipikul. Namun apabila seorang pemimpin telah memiliki pondasi karakter yang kuat, dibarengi dengan penyerahan diri kepada Tuhan sebagai pemimpin hidupnya dan memahami akar budaya secara khusus hakekat kepempimpinan adat, maka pemimpin tersebut akan mampu membuat dan memimpin perubahan bagi daerah yang dipimpinnya.

Sebagaimana tersirat dalam makna kalimat Tuleran Kada: “Gandang tang didedek, anna tipaseno-seno, to ma’parenta umben kaparualluanna to buda, na palaku tang na palaku” artinya Gendang tidak dipukul lalu bergema-gema. Pemimpin yang tanggap terhadap kebutuhan rakyatnya dan memenuhi kebutuhan mereka diminta atau tidak diminta. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

KPU Toraja Utara Luncurkan Tahapan dan ‘Upe’ Sebagai Maskot Pilkada 2024

ZONAKATA.COM - TORAJA UTARA  Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Toraja Utara mengelar peluncuran tahapan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati...

Berita Lain