Budi Daya Sayuran di Perindingan Belum Optimal
- account_circle Gibran
- calendar_month Minggu, 6 Jan 2019
- print Cetak

Lahan pertanian di Lembang Perindingan
ZONAKATA.COM – TANA TORAJA Budidaya sayuran memberikan banyak keuntungan karena setiap tahunnya, permintaan terhadap sayuran selalu meningkat cukup signifikan. Mengingat sayuran memang menjadi kebutuhan pokok yang kaya akan gizi. Petani sayur terkadang diuntungkan karena hasil panennya selalu ditunggu-tunggu oleh pedagang sayur. Bahkan budidaya sayuran saat ini menjadi mata pencaharian masyarakat di Perindingan terlebih lagi, ada banyak jenis sayuran yang mudah ditanam dan bisa panen lebih cepat
Salah seorang petani yang membudidayakan sayuran di Perindingan adalah Yunus. Dalam menjalankan usaha budidaya sayurnya, Yunus belajar secara otodidak. Yunus tak hanya terpaku menanam satu komoditas saja. Di lahan yang dimiliki, Yunus bertanam aneka jenis sayuran, seperti Kol, Bawang Prei, Tomat, Kentang, Wortel, dan lainnya. Dikatakan jika dalam seminggu, petani di Perindingan bisa menghasilan minimal 20 ton sayuran.
“Hasil panen kami setiap minggu minimal 20 ton, dan itu dibawa ke sejumlah daerah seperti ke Makale, Rantepao, Palopo, Sudu, Pinrang bahkan pernah Morowali dan ke Kalimantan,” jelas Yunus kepada Zonakata.com beberapa waktu lalu.
Sayang menurut Yunus, sayur yang di bawa ke Morowali dan Kalimantan terpaksa dihentikan karena terkendala biaya akomodasi yang cukup besar.
Lagian menurutnya, permintaan sayur dari pedagang di Sudu dan Pinrang terkadang tidak terpenuhi karena hasil panen yang kurang.

“Permintaan terkadang tidak mampu kami penuhi karena hasil panen yang kurang, sehingga perluasan lahan menjadi satu-satunya solusi untuk menambah hasil panen,” ungkapnya.
Tapi terkadang juga hasil panen petani di Perindingan tinggal membusuk karena banyaknya pasokan sayur mayur dari daerah lain sehingga harga sayuran dipasaran turun drastis. Satu hal yang juga menjadi kendala di Perindingan adalah minimnya tenaga penyuluh dari Dinas Pertanian.
“Sistem tanam yang digunakan masih cara cara konvensional, sehingga kami sangat membutuhkan pendampingan dari tenaga penyuluh dalam meningkatkan produktifitas hasil panen, terutama dalam mengembangkan sayuran organik,” jelas Yunus.
Selain itu kendala lain yang di hadapi oleh petani di Perindingan adalah tidak adanya jalan tani sehingga hasil panen terpaksa harus dipikul dengan jarak yang cukup jauh, hal ini yang mengakibatkan hasil panen yang dibawa terbatas.
“Jarak yang ditempuh kurang lebih satu kilo, jika tenaga kurang maka hasil panen yang dibawa juga terbatas,” pungkasnya
Gibran Raka
- Penulis: Gibran
