Tenun Mamasa Dapat Apresiasi, Dewi Sartika Soroti Potensi dan Tantangan
- account_circle zonakatacom
- calendar_month Jumat, 25 Apr 2025
- print Cetak

ZONAKATA.COM – MAMASA Pemerhati dan pencinta tenun Nusantara, Dewi Sartika Pasande, memberikan apresiasi tinggi terhadap pelestarian budaya tenun di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.
Apresiasi ini disampaikan Dewi usai mengunjungi sentra kerajinan tenun tradisional di Desa Balla Satanetean, Kecamatan Balla, dalam rangkaian kegiatan sosial Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI), Kamis (24/4/2025).
Dewi yang hadir bersama Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (Asparindo), Y. Joko Setiyanto, mengaku kagum dengan semangat dan kemampuan para penenun lokal, khususnya generasi muda.
“Regenerasi di Mamasa luar biasa. Saya melihat langsung anak usia sembilan tahun sudah mampu menenun dengan teknik yang baik. Ini harus diapresiasi sebagai bentuk pelestarian budaya yang hidup di tengah masyarakat,” ungkap Dewi.
Ia menilai, tenun Mamasa memiliki potensi besar untuk menembus pasar nasional bahkan internasional.
Menurutnya, motif tenun Mamasa yang otentik memiliki daya saing tinggi, dengan karakter khas pegunungan yang membedakannya dari kain tradisional lain seperti Batak dan Toraja.
Namun demikian, Dewi menyoroti rendahnya nilai ekonomi yang masih diterima oleh para pengrajin tenun Mamasa.
Ia menyebut harga satu set kain tenun Mamasa untuk pakaian adat masih berkisar Rp1,5 juta, jauh di bawah harga tenun serupa di daerah lain seperti Toraja yang bisa mencapai Rp3 juta hingga Rp5 juta.
“Motifnya sangat otentik dan bisa bersaing. Tapi yang perlu kita dorong bersama adalah penghargaan terhadap nilai ekonominya. Saat ini harganya masih terlalu rendah dibandingkan daerah lain,” ujarnya.
Dewi berharap pemerintah daerah dapat mengambil peran lebih aktif dalam mempromosikan tenun Mamasa melalui intervensi kebijakan dan penguatan merek dagang lokal.
“Saya berharap ke depan bisa membawa lebih banyak sahabat dan kolega untuk mengenal Mamasa. Tenun Mamasa layak dikenal lebih luas, dan itu butuh dukungan serius dari pemerintah daerah,” tegasnya.
Kunjungan Dewi ke Mamasa merupakan bagian dari program bakti sosial PMTI melalui Corporate Social Responsibility (CSR) yang bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Mamasa dan sejumlah mitra.
Selain meninjau sentra tenun, kegiatan ini juga mencakup layanan operasi bibir sumbing dan katarak gratis bagi warga kurang mampu.
Menurut Dewi, pengembangan budaya lokal seperti tenun tidak dapat dipisahkan dari pendekatan kesejahteraan dan kolaborasi lintas sektor.
“Tenun bukan hanya kain, tapi simbol peradaban. Ketika kita melindungi tenun, kita sedang melindungi identitas kita sendiri,” pungkasnya.*
- Penulis: zonakatacom
