Keluarga Besar Tongkonan Bamba Meminta Maaf Atas Kerumunan Yang Terjadi Saat Ritual Ma’batang
- account_circle Gibran
- calendar_month Minggu, 29 Agt 2021
- print Cetak

ZONAKATA.COM TANA TORAJA Keluarga Besar Tongkonan Bamba memohon maaf atas kejadian kerumunan saat menggelar ritual Ma’batang, Senin 23 Agustus 2021 lalu. Diketahui ritual Ma’batang merupakan salah satu rangkaian dalam upacara Rambo Solo’.
Kejadian itu kemudian terekam kamera dan videonya tersebar di media sosial hingga viral. Peristiwa itu mengundang kritik sejumlah warga karena saat itu Kabupaten Tana Toraja masih menerapkan PPKM Level-3.
Atas kejadian di luar dugaan itu, penanggung jawab acara dr Rudhy Andi Lolo mewakili keluarga besarnya meminta maaf kepada masyarakat maupun Pemerintah Daerah. Permohonan maaf itu disampaikan Sabtu (28/8) malam di Tongkonan Bamba, Makale.
“Mewakili keluarga besar di Tongkonan Bamba, saya memohon maaf sebesar besarnya kepada seluruh masyarakat, Pemerintah Kabupaten Tana Toraja atas kejadian kerumunan yang terjadi di rumah kami berkaitan dengan rangkaian kegiatan adat orang tua kami Ma’batang,” ucap dr. Rudhy.
Rudhy mengatakan atas kejadian itu keluarga besar Tongkonan Bamba sangat menyesali. Dikatakan pihak keluarga sudah berupaya mencegah serta menyiapkan protokol kesehatan di lokasi akan tetapi diluar dugaan kerumunan warga tidak dapat dihindari.
“Ini diluar dugaan dan kami sangat menyesali. Hal inilah yang membuat kami keluarga resah dengan keadaan tersebut makanya saya mengambil keputusan hari itu juga pembubaran. Dan tidak ada kegiatan hari berikutnya berkaitan Bulangan Londong,” ungkap Rudhy.
Dikatakan setelah video itu yang tersebar dan viral, ia mengaku pihak keluarga resah dan tidak nyaman, apalagi dalam situasi pandemi Covid-19.
“Kami berharap kejadian ini pertama dan terakhir dalam keluarga. Ini yang saya bisa sampaikan, sekali lagi kami dari keluarga besar Tongkonan Bamba memohon maaf sebesar besarnya kepada kita semua,” pungkasnya.
Untuk diketahui dalam video tersebut nampak ratusan orang berkerumun menyaksikan ritual adat Ma’batang dimana salah satu kegiatannya adalah bulangan londong atau sabung ayam. Situasi ini kemudian dimanfaatkan oleh warga yang datang untuk melakukan judi hingga menimbulkan sorotan masyarakat.**
- Penulis: Gibran
