‘Lantang Pangan” Simbol Penghormatan Terakhir Bagi Mereka yang Meninggal Muda
- account_circle Gibran
- calendar_month Minggu, 23 Nov 2025
- print Cetak

ZONAKATA.COM — TORAJA UTARA Di tengah gelapnya malam Tambunan, Lembang Tallung Penanian, Sanggalangi, Kabupaten Toraja Utara, cahaya berwarna-warni memantul dari sebuah miniatur tongkonan yang dihiasi pernak-pernik.
Suasananya khidmat namun hangat. Itulah “Lantang Pangan”, sebuah ritual yang hanya digelar bagi mereka yang berpulang di usia muda—sebagai penghormatan terakhir yang sarat makna dalam tradisi adat Rambu Solo’.
Pada Rabu 12 November 2025 malam lalu, keluarga besar almarhum Adnan Rante Allo berkumpul untuk melaksanakan prosesi yang semakin jarang ditemukan ini.
Di antara kerabat yang hadir, tampak kesedihan sekaligus penghormatan yang mendalam ketika keluarga membawa hasil panen berupa jagung, pisang, pa’piong (lemang) nasi, dan pa’piong babi untuk mengiringi lantang pangan yang akan diarak.
Bagi Adnan, salah satu kerabat almarhum, lantang pangan bukan sekadar rangkaian adat. Ia adalah wujud cinta terakhir yang diberikan keluarga kepada seseorang yang pergi terlalu cepat.
“Lantang pangan itu simbol penghormatan untuk mereka yang meninggal muda. Bukan soal umur, tapi apakah mereka sudah punya cucu atau belum. Almarhum ini masih punya anak-anak kecil dan memang masih muda,” tutur Adnan kepada Zonakata.

Ia menjelaskan bahwa keluarga tidak hanya menjalankan ritual ini sebagai kewajiban adat, tetapi sebagai ungkapan duka yang paling tulus.
“Keluarga sampaikan ke kami akan membuat lantang pangan sebagai tanda duka. Kalau dianalogikan sekarang, mungkin seperti karangan bunga, tapi jauh lebih mendalam,” ujarnya.
Lantang pangan yang dibangun malam itu berbentuk miniatur tongkonan, lengkap dengan ukiran kecil, hiasan tradisional, serta lampu-lampu yang memberi kesan hangat dan sakral.
Namun, jauh sebelum listrik dan lampu warna-warni digunakan seperti hari ini, masyarakat Toraja mengandalkan obor dari bambu dan lilin untuk menerangi prosesi tersebut.
“Sebelum ada lampu, terakhir saya lihat sekitar tahun 1999, masih pakai obor. Setelah itu lilin, tapi tidak bertahan lama karena minyak lilin bisa merusak bagian lantang pangan,” kenang Adnan.
Di balik gemerlap hiasan dan suasana yang tampak meriah, lantang pangan sesungguhnya adalah penegasan nilai-nilai paling mendasar bagi masyarakat Toraja yakni gotong royong, solidaritas, serta ikatan kekerabatan yang kokoh.
Prosesi ini tidak hanya mengenang yang telah pergi, tetapi juga merawat identitas budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Dalam setiap langkah arak-arakan malam itu, tampak jelas bahwa Lantang Pangan adalah bahasa cinta yang diungkapkan lewat tradisi atau penghormatan terakhir bagi seseorang yang kisah hidupnya belum genap, tetapi tetap dirayakan dengan penuh kehormatan.
Devin/ZK
- Penulis: Gibran
