SMSI dan Pengurus PWI Sulsel Sesalkan Aksi Jurnalis Muda Mau Berdemo Bela Tempo yang Dinyatakan Bersalah Secara Etik
- account_circle zonakatacom
- calendar_month Senin, 3 Nov 2025
- print Cetak

ZONAKATA.COM – MAKASSAR Pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sulawesi Selatan, Mappiar H.S., menyayangkan sikap sebagian jurnalis muda yang terpengaruh pemberitaan Tempo Media Group terkait isu di Kementerian Pertanian dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, hingga berencana turun ke jalan untuk berdemo membela Tempo tanpa memahami persoalan secara menyeluruh.
Menurut Mappiar, putusan Dewan Pers melalui Pernyataan Penilaian dan Rekomendasi (PPR) telah menegaskan adanya pelanggaran kode etik jurnalistik dalam pemberitaan Tempo, khususnya pada infografis berjudul “Poles-Poles Beras Busuk”.
Namun, Tempo disebut tidak sepenuhnya melaksanakan rekomendasi Dewan Pers, sehingga klaim bahwa mereka telah mematuhi keputusan tersebut dinilai tidak sesuai fakta.
“Kasus ini bukan yang pertama. Jika pelanggaran kode etik dilakukan berulang, maka kredibilitas media bisa runtuh,” tegas Mappiar.
Dalam putusannya, Dewan Pers menilai bahwa infografis Tempo tidak akurat dan melebih-lebihkan, termasuk penggunaan visual karung beras berlubang berisi kecoa yang dianggap menimbulkan persepsi negatif terhadap petani dan dunia pertanian Indonesia.
Mappiar juga mempertanyakan motif di balik pemberitaan tersebut, serta mengingatkan pentingnya menjaga independensi redaksi dari pengaruh struktur kepemilikan perusahaan media.
“Yang disayangkan, justru ada sebagian jurnalis muda di daerah yang ikut-ikutan berdemo membela Tempo, padahal di Jakarta dukungan terhadap Tempo semakin menurun. Nyaris tidak ada media besar yang ikut membela. Itu menunjukkan masalah ini tidak sesederhana yang mereka kira,” ujarnya.
Ia menambahkan, peran utama media adalah mengangkat kebenaran, bukan menciptakan sensasi atau menyebarkan disinformasi.
Menurutnya, kredibilitas pers lahir dari keberanian mengakui kesalahan ketika dinilai oleh mekanisme etik resmi, bukan dari sikap defensif yang menolak koreksi.
Wartawan senior sekaligus pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel, Suwardi Thahir, menilai pemberitaan negatif tentang sektor pertanian tidak adil dan mengabaikan fakta lapangan.
Ia menegaskan, kinerja pertanian nasional dalam satu tahun terakhir justru menunjukkan capaian signifikan.
Berdasarkan data BPS 2025, produksi padi nasional diproyeksikan mencapai 34,77 juta ton, naik 13,6 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan luas panen meningkat menjadi 11,35 juta hektare.
Selain itu, stok beras nasional tercatat 4,2 juta ton, rekor tertinggi sejak Indonesia merdeka. Capaian ini memperkuat posisi Indonesia untuk tidak melakukan impor beras dan menunjukkan efektivitas kebijakan produksi serta penyerapan gabah petani.
Sementara itu, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Oktober 2025 berada di angka 124,33, menandai peningkatan kesejahteraan dan daya beli petani.
“Ketika fakta keberhasilan ini tertutup oleh framing negatif, yang dirugikan bukan pejabat, tetapi petani dan masyarakat,” ujar Suwardi.
SMSI dan PWI Sulsel berharap para jurnalis muda tetap bersikap kritis terhadap setiap narasi yang berkembang, termasuk dari media besar. Jurnalis ideal, kata mereka, adalah yang berpijak pada data, etika, dan independensi, bukan yang ikut-ikutan membela pelanggaran etik.
Karena ketika media menolak diuji dan mengklaim diri sebagai korban, itu bukan lagi perjuangan kebebasan pers, melainkan penolakan terhadap akuntabilitas dan kebenaran.*
- Penulis: zonakatacom
