Retreat Sulbar: Bupati Mamasa Minta Dukungan Konkret untuk Daerah Terpencil
- account_circle zonakatacom
- calendar_month Senin, 21 Jul 2025
- print Cetak

Nampak Bupati Mamasa Welem Sambolangi tampil sebagai pembicara Retreat pejabat eselon II Pemprov Sulawesi Barat
ZONAKATA.COM – MAMUJU Retreat pejabat eselon II Pemprov Sulawesi Barat yang berlangsung di Makorem 142 Tatag, Mamuju, 18–20 Juli 2025, menjadi ruang refleksi penting bagi arah pembangunan daerah.
Dalam kegiatan yang dibuka oleh Menteri Transmigrasi RI, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara ini, Bupati Mamasa Welem Sambolangi tampil sebagai pembicara dengan materi berjudul “Quo Vadis Sulbar: Tantangan dan Harapan dari Daerah Pegunungan Kabupaten Mamasa”.
Welem menyampaikan kondisi terkini Kabupaten Mamasa yang masih dihadapkan pada tantangan serius, terutama keterbatasan anggaran dan defisit fiskal.
Hal ini, menurutnya, mempersempit ruang gerak pembangunan, terutama di sektor layanan dasar, ekonomi lokal, dan ketahanan sosial-budaya.
“Kami butuh dukungan konkret dari Pemerintah Provinsi. Jangan biarkan Mamasa tertinggal lebih jauh. Ketimpangan pembangunan hanya bisa dijawab lewat sinergi lintas kabupaten dan intervensi yang menyeluruh, bukan parsial,” tegas Welem.
Visi pembangunan Mamasa, lanjutnya, berfokus pada pemerataan akses, penguatan ekonomi berbasis pertanian dan pariwisata, serta pelestarian budaya masyarakat pegunungan.
Ia berharap Pemprov Sulbar tidak hanya menyusun program dari balik meja, tetapi betul-betul menyentuh kebutuhan riil masyarakat di daerah terpencil.
Retreat ini merupakan inisiatif Gubernur Sulbar Suhardi Duka (SDK) untuk mendorong konsolidasi, memperkuat kinerja birokrasi, dan merumuskan strategi percepatan pembangunan di tengah tantangan fiskal dan sosial yang semakin kompleks.
Dalam sambutannya, Gubernur SDK menekankan pentingnya memperkuat solidaritas antarlembaga dan membangun arah pembangunan yang terfokus dan kolaboratif.
Menteri Transmigrasi, dalam arahannya, menyebut bahwa Sulbar merupakan provinsi yang berkembang pesat melalui program transmigrasi.
Namun, ia menegaskan bahwa paradigma pembangunan kini telah bergeser dari sekadar pemindahan penduduk menjadi pembangunan kawasan berbasis potensi unggulan dan ekonomi ekspor.
“Kami akan mengirimkan 105 peneliti dalam 21 tim untuk memetakan potensi unggulan di seluruh kabupaten di Sulbar, termasuk Mamasa. Semua kebijakan pembangunan ke depan harus berbasis data dan kebutuhan riil lapangan,” ujar Menteri Iftitah.
Materi Bupati Mamasa menjadi salah satu yang paling disorot dalam retreat ini karena menggambarkan realitas pembangunan dari wilayah pegunungan yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sulawesi Selatan.
Paparan Welem dinilai memberikan perspektif penting tentang bagaimana pembangunan harus lebih inklusif dan merata.
Selain menghadiri retreat, Bupati Welem Sambolangi juga mengikuti sejumlah agenda penting lainnya selama berada di Mamuju, termasuk Rakor Dinas Transmigrasi, penyerahan DIPA dan bantuan sarpras dari Kementerian Transmigrasi RI, serta pelepasan ekspor kakao Sulbar ke Jepang.*
- Penulis: zonakatacom
