Cabe Salo Dua Enrekang Go Internasional, Diekspor ke Singapura Hingga Arab Saudi
- account_circle zonakatacom
- calendar_month Kamis, 25 Agt 2022
- print Cetak

ZONAKATA.COM – ENREKANG Varietas lokal cabe Salo Dua (S2) asal Kabupaten Enrekang, mendapat sertifikat dari Kementerian Pertanian RI. Komoditas cabe lokal Enrekang ini juga sudah diekspor ke berbagai negara.
“Betul, cabe S2 Enrekang sudah mendapatkan pengakuan varietas tanaman lokal dari Kementerian Pertanian RI. Kalau sudah ada sertifikat ini komoditas cabe S2 tidak bisa lagi dicaplok daerah lain,” kata Ketua Lembaga Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Laskar Pelangi Enrekang, Benny Arman, Kamis (25/8/2022).
Benny mengungkapkan, keunggulan cabe S2 memiliki cita rasa yang sangat pedas, berwarna ungu saat masih muda, dan memiliki ketahanan yang lama setelah dipanen. Keunggulan ini membuat cabe lokal Enrekang tersebut memiliki harga cukup mahal yakni Rp 43 ribu per kilonya dibanding komoditas cabe lain.
“Rasanya pedas dari cabe lain. Kalau cabe biasanya itu warna hijau kalau masih muda, nah S2 ini berwarna ungu, kemudian ketahanannya lama sampai 2 hingga tiga minggu jadi tidak mudah busuk. Harganya beda pasti, per hari ini sekitar Rp 43 ribu perkilonya, kalau cabe biasa hanya Rp 23 ribu per kilo,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Benny melanjutkan, banyaknya keunggulan dari cabe S2 membuat cabe ini banjir peminat. Saat ini cabe tersebut sudah dipasarkan di 17 Provinsi dan 70 Kabupaten dan Kota di Indonesia. Bahkan, cabe asal Enrekang ini juga sudah mulai diekspor di berbagai negara diantaranya, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Arab Saudi.
“Ya karena ketahanannya cukup lama jadi banyak peminat. Itu sudah dipasarkan di 17 Provinsi dan 70 Kabupaten dan Kota di Indonesia. Diekspor juga di negara, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, menyusul Arab Saudi,” beber Benny.
Meski begitu, produktifitas cabe S2 ini masih terbilang kurang di Kabupaten Enrekang. Petani di Enrekang khususnya di Kecamatan Maiwa, hanya memanen 6 hingga 7 ton cabe S2 per harinya. Jumlah ini menurut Benny belum memenuhi kebutuhan pasar nasional hingga internasional.
“Bisa dibilang masih kurang, karena permintaan pasar untuk cabe ini cukup tinggi. Sementara petani hanya bisa memproduksi 6 hingga 7 ton cabe per harinya. Makanya kita dorong petani di Enrekang untuk menanam cabe ini, karena keuntungannya lumayan, bisa dapat Rp 7 juta per minggunya,” jelas Benny.
Sementara itu, Bupati Enrekang, Muslimin Bando merespon baik terbitnya sertifikat pengakuan varietas tanaman lokal dari Kementerian Pertanian RI untuk cabe S2 Enrekang. Dia pun akan mendorong peningkatan produktivitas cabe S2 di Enrekang.
“Produktivitas cabe ini harus ditingkatkan, untuk memenuhi kebutuhan pasar. Dengan adanya ini pasti akan membuat petani juga sejahtera,” tandasnya. (*)
- Penulis: zonakatacom
