Tingginya Kasus Bunuh Diri di Toraja, Ini Tanggapan Dari Psikolog
- account_circle zonakatacom
- calendar_month Kamis, 14 Jan 2021
- print Cetak

ZONAKATA.COM – MAKASSAR Kejadian kasus bunuh diri di Toraja, cukup tinggi. Bayangkan pada tahun 2020 lalu ada 30 peristiwa bunuh diri dimana 14 kasus terjadi di Tana Toraja dan 16 kasus di Toraja Utara.
Sementara di awal tahun ini kembali terjadi tiga kasus bunuh diri. Korbannya wanita berumur 20 tahun dan 18 tahun serta seorang laki-laki berumur 20 tahun. Kasus ini pun sontak menjadi perbincangan masyarakat Toraja.
Hal ini juga mendapat respon dari mantan Wakil Rektor III dan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Timur (UIT) Makassar, Andi Tajuddin. Ia menyatakan rasa keprihatinannya mengenai kasus bunuh diri di Toraja yang begitu tinggi.
Menurutnya kasus yang terjadi bukanlah hal yang lumrah dan tentunya harus di perhatikan dengan baik. Ia mengatakan dengan jumlah itu, peristiwa ini telah menjadi kejadian luar biasa dan semua pihak harus tanggap.
“Kasus yang terjadi di Toraja sudah menjadi kejadian luar biasa dan semua pihak harus tanggap masalah ini,” katanya.
Ia menjelaskan, respon seseorang terhadap persoalan yang dialami dalam hidupnya sangat tergantung pada kekuatan mentalnya untuk menghadapi berbagai masalahnya. Jika yang bersangkutan memiliki mental yang kuat dan sehat serta memiliki adaptasi psikologi yang baik, tidak masalah.
Tetapi yang memiliki keterbatasan kemampuan dalam menghadapi atau menyesuaikan diri terhadap berbagai persoalannya, ini yang rentan dan berpotensi menimbulkan berbagai gangguan psikologis.
“Apalagi di era Pandemi Covid-19 yang tak kunjung surut ini merupakan salah satu faktor memicu munculnya berbagai gangguan mental seseorang,” ujarnya.
Dikatakan, peristiwa bunuh diri yang sering terjadi merupakan kenyataan sosial. Pemicunya boleh jadi karena depresi, perilaku bullying, khawatir yang berlebihan, atau merasa hidupnya sudah tidak berarti apa-apa. Sehingga berupaya mengakhiri hidupnya dengan cara-cara yang tidak wajar atau disengaja.
“Hubungan asmara dan keluarga yang tidak sehat sering menjadi pemicu munculnya hambatan psikologis seseorang untuk melakukan adaptasi mental, Jika hal ini berlarut-larut, tidak kunjung selesai dan menjadi akut bisa berpotensi mengarahkan yang bersangkutan mengakhiri hidup dengan cara yang tidak wajar,” jelasnya.
Andi Tajuddin menambahkan, ada beberapa hal yang minimal sebagai langkah untuk menghindari munculnya niat seseorang bunuh diri. Seperti membangun komunikasi yang baik dalam lingkungan keluarga dan sekitarnya.
Mendorong individu yang mengalami masalah secara terbuka dan suka rela mengutarakan setiap masalahnya, dan bagi keluarga lainnya hindari perilaku menghakimi, kemudian perlihatkan perilaku empati.
Tanggap dan solutif terhadap masalah yang dialami anggota keluarga. Secara khusus dibutuhkan penanganan secara serius dengan pemberian edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental.
“Pentingnya sosialisasi promosi kesehatan jiwa atau mental kepada masyarakat di Toraja Utara dan Tana Toraja menurut saya sangat perlu untuk dilaksanakan atau ditingkatkan serta dimaksimalkan,” tuturnya.
Andi Tajuddin juga mengatakan jika tidak ada halangan Fakultas Psikologi UIT akan melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) bersama Dosen, Mahasiswa dan Alumni asal Toraja.
“Kalau memungkinkan, sebagai bentuk turut peduli kesehatan mental terhadap masyarakat di Toraja, kita rencana memberikan edukasi mental terutama di daerah yang berpotensi mengalami masalah psikologi.” Pungkasnya.
Tom
- Penulis: zonakatacom
