Keyakinan Sang Ibu Terbukti, Soekarno Menjadi Sejarah Negeri Ini
- account_circle zonakatacom
- calendar_month Rabu, 17 Jun 2020
- print Cetak

ZONAKATA.COM Seperti pesan masyhur ”Jas Merah”, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Tepat 6 Juni, 119 tahun lalu, Sang Proklamator Indonesia yang juga Presiden RI pertama, Ir. Soekarno dilahirkan. Boleh dikatakan bulan Juni adalah bulannya Soekarno dan Pancasila. Dimana Ir.Soekarno lahir 6 Juni 1901. Sementara itu, 1 Juni selalu diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila.
Soekarno atau akrab disapa Bung Karno juga meninggal pada bulan Juni tepatnya 21 Juni 1970 di Jakarta. Dia meninggal dalam usia 69 tahun.Tentang hari kelahirannya itu, Soekarno memandangnya sebagai suatu pertanda baik karena serba 6.
“Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam, tanggal 6 bulan 6. Ini menjadi nasibku yang paling baik untuk dilahirkan dengan bintang Gemini, lambang kekembaran. Dan itulah aku sesungguhnya, dua sifat yang berlawanan,” kata Bung Karno yang dikutip dari autobiografinya yang disusun oleh Cindy Adams ‘Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat’.
Kejadian lain yang dianggap sebagai pertanda nasib oleh Soekarno adalah meletusnya Gunung Kelud saat ia dilahirkan. Menurut dia, orang yang percaya takhayul meramalkan letusan itu sebagai penyambutan bayinya. Namun sayang, masa kecil Bung Karno yang saat itu masih bernama “Kusno” banyak dilaluinya dengan penuh kekurangan dan sakit-sakitan. Ia pernah menderita penyakit berturut-turut, seperti tifus, disentri, dan malaria yang berujung pada penggantian namanya dari Kusno menjadi Karno.
Penggantian nama Kusno menjadi Karno pun memberi satu mitos lagi dalam diri Soekarno kecil tentang dirinya sebagai calon pejuang dan pahlawan bangsanya. Karno (Karna) merupakan nama seorang tokoh pewayangan putra Kunti yang berpihak pada Kurawa demi balas budi dan kewajiban membela negara yang menghidupinya. Masa kecil Soekarno juga banyak dilaluinya dalam kemelaratan, sehingga tak dapat menikmati benda-benda yang diidamkannya.
Selain itu, di lingkungan sekolah ia harus berhadapan dengan anak-anak Belanda yang sudah terbiasa memandang lemah pribumi. Bahkan, pengalaman itu tampak membekas kuat dalam ingatan Bung Karno.
Meski dengan keterbatasan itu, ibunya, Ida Nyoman Rai, meyakini bahwa anaknya akan menjadi orang mulia dan pemimpin rakyat. Ucapan ibunya itu terlontar saat Soekarno baru berumur beberapa tahun. Ia terbangun bersama ibunya sesaat sebelum matahari terbit.
Konon saat itu, ibunya segera memandang ke arah timur seraya menunggu matahari terbit. Sambil memeluk Soekarno, ibunya berbisik, “Kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar mulai menyingsing”.
“Kita orang Jawa mempunyai suatu kepercayaan, bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dulu. Jangan lupakan itu, jangan sekali-kali kau lupakan, Nak, bahwa engkau ini putra dari Sang Fajar,” kata ibu Bung Karno.
Ucapan itu pun benar adanya, kelak Soekarno memimpin rakyat Indonesia dalam memproklamirkan kemerdekaan dan selalu dikenang sepanjang masa, sebagai bagian dari sejarah berdirinya bangsa ini.**
Gibran Raka #Lomba Menulis di Bulan Bung Karno #PDI Perjuangan Tana Toraja
- Penulis: zonakatacom
