Pulang Kampung ke Sulsel, Mentan Amran Sulaiman Berbagi Makna Kepemimpinan di Ramadhan Leadership Camp
- account_circle zonakatacom
- calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
- print Cetak

ZONAKATA.COM – MAKASSAR Kepemimpinan bukan tentang jabatan, melainkan keberanian memikul tekanan dan menjaga integritas. Pesan itu disampaikan Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, saat menjadi narasumber pada Ramadhan Leadership Camp di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Kamis (26/2/2026).
Dalam forum bertema “Profesional dalam Berkinerja, Berkarakter dan Amanah dalam Kepemimpinan” yang dihadiri jajaran Forkopimda dan hampir 1.000 peserta ASN Pemprov Sulsel, Amran tampil reflektif saat kembali ke kampung halamannya.
Dari PPL Bergaji Rp125 Ribu hingga Menteri
Amran membagikan perjalanan hidupnya sejak menjadi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dengan gaji Rp125 ribu per bulan, pernah menjadi buruh kebersihan, hingga bertugas selama 8,5 tahun di wilayah perbatasan. Ia mengabdi selama 15 tahun sebelum akhirnya berwirausaha dan kemudian dipercaya memimpin Kementerian Pertanian.
“Pemimpin itu indah dalam mimpi tetapi tidak indah dalam kenyataan. Itu sangat mudah diucapkan. Tetapi kalau menjadi pemimpin yang baik, adil dan jujur, insya Allah surga akan menunggu. Yang tidak adil akan kehilangan kehormatan,” ujarnya.
Menurutnya, tekanan adalah bagian dari proses pembentukan karakter. Ia mengibaratkan kepemimpinan seperti berlian yang lahir dari tekanan besar.
“Atasan ada dua tipe, ada yang menekan perasaan, ada juga yang menyanjung. Dua-duanya guru kita,” katanya.
Ia menekankan pentingnya memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain.
“Untuk jadi pemimpin maka pimpin diri terlebih dahulu. Jika ingin jadi pemimpin, insya Allah bisa memimpin,” tuturnya.
Kepercayaan diri, lanjutnya, menjadi fondasi utama. Ia mengutip pernyataan Albert Einstein tentang definisi kegilaan—melakukan hal yang sama berulang-ulang tetapi mengharapkan hasil berbeda—sebagai sindiran bagi pola kerja yang stagnan.
Amran juga mengutip QS. Ar-Ra’d ayat 11 yang menegaskan bahwa perubahan nasib suatu kaum bergantung pada perubahan diri mereka sendiri. Pesan itu ia arahkan kepada ASN agar berani mengubah mindset dan menjaga integritas.
“Pegawai harus mengubah mindset-nya dan harus menjadi teladan yang baik,” tegasnya.
Tekanan Target Swasembada dan Kolaborasi Lintas Sektor
Amran turut mengisahkan momen menegangkan ketika target swasembada pangan dipercepat dari empat tahun menjadi satu tahun.
“Saat itu sidang kabinet disampaikan tahun 2025 Indonesia stop impor, saya keringatan. Dari empat tahun menjadi satu tahun swasembada, itu tekanan empat kali lipat,” ungkapnya.
Menurutnya, tekanan tersebut dijawab dengan kolaborasi lintas sektor bersama TNI, Polri, dan Kejaksaan.
“Ini tidak akan mungkin jadi kalau sendirian. Ini sukses tercapai karena kolaborasi,” katanya.
Ia menyebut target swasembada tercapai pada 31 Desember 2025. Data yang dipaparkan menunjukkan stok beras per Juni 2025 mencapai 4,2 juta ton. Per 25 Februari 2026 tercatat 3,58 juta ton dan diproyeksikan menyentuh 5 juta ton pada Mei mendatang.
“Stok hari ini, tadi pagi dicek 3,5 juta ton. Tidak pernah terjadi selama merdeka pada bulan Januari beras setinggi ini,” ujarnya.
Ia juga mengungkap rencana ekspor beras perdana ke Arab dalam jumlah besar sebagai simbol penguatan kedaulatan pangan nasional.
Pertanian sebagai Pilar Kedaulatan Bangsa
Di akhir pemaparannya, Amran menegaskan bahwa pertanian adalah sektor strategis masa depan. Swasembada, menurutnya, bukan sekadar capaian angka, melainkan simbol kedaulatan dan martabat bangsa.
Ramadhan Leadership Camp Pemprov Sulsel menjadi ruang refleksi bagi ASN untuk memperkuat profesionalitas, integritas, dan keberanian menghadapi tekanan dalam menjalankan amanah pelayanan publik.(*)
- Penulis: zonakatacom
