Pemprov Sulsel Bangun 1.657 Unit Apartemen Ikan di Sulsel, Nilai Ekonomi Diproyeksikan Capai Rp209 Miliar dalam Satu Dekade
- account_circle zonakatacom
- calendar_month Senin, 8 Des 2025
- print Cetak

ZONAKATA.COM – MAKASSAR Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) berhasil membangun 1.657 unit apartemen ikan sepanjang tahun 2025 sebagai bagian dari pengembangan kawasan perikanan rakyat.
Fasilitas rumah ikan buatan tersebut ditempatkan pada 13 titik lokasi di Sulawesi Selatan, yakni Makassar, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Kepulauan Selayar, Pangkep, Barru, Pulau Panikiang (Barru), Pinrang, Luwu Timur, dan Palopo. Total area yang tercakup dalam program ini mencapai sekitar 11 hektare wilayah pesisir.
Beberapa wilayah seperti Pulau Panikiang, Selayar, dan Sinjai dikenal memiliki potensi ekologi tinggi, sedangkan kawasan Pangkep, Takalar, dan Makassar berfokus pada peningkatan produktivitas nelayan.
Program apartemen ikan merupakan prioritas Gubernur Andi Sudirman Sulaiman bersama Wakil Gubernur Fatmawati Rusdi, sebagai upaya memulihkan ekosistem laut sekaligus meningkatkan produktivitas nelayan berdasarkan pendekatan ekonomi biru. Program ini juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ekonomi biru nasional.
Kepala DKP Sulsel, M. Ilyas, menegaskan bahwa rumah ikan buatan terbukti efektif menarik ikan untuk berlindung dan berkembang biak sehingga mempermudah nelayan dalam menangkap ikan.
“Apartemen ikan ini mempersingkat waktu nelayan untuk mencari ikan. Dengan titik-titik baru yang produktif, nelayan bisa menghemat BBM, menekan biaya operasional, dan meningkatkan pendapatan,” ujarnya, Minggu (7/12/2025).
Selain meningkatkan stok ikan, program ini juga membantu mengurangi tekanan penangkapan di area sensitif seperti terumbu karang alami sehingga berkontribusi pada pelestarian ekosistem laut.
Pemasangan 1.657 modul dilakukan dengan mempertimbangkan faktor oseanografi, kedalaman, substrat dasar perairan, dan pola arus. Setiap modul dirancang untuk menjadi tempat perlindungan ikan dan biota laut, lokasi bertelur (spawning ground), area pembesaran (nursery ground), serta meningkatkan keanekaragaman hayati melalui tumbuhnya terumbu karang buatan.
Dari sisi ekonomi, satu modul apartemen ikan diproyeksikan menghasilkan 40–90 kg ikan per bulan atau 500–1.000 kg per tahun. Dengan asumsi 60% biomassa dapat dipanen tanpa mengganggu fungsi ekologis, maka produktivitas bersih rata-rata mencapai 360 kg per modul per tahun.
Dengan total 1.657 modul, produksi mencapai sekitar 596 ton ikan per tahun. Menggunakan harga rata-rata ikan campuran Rp35.000/kg, nilai ekonomi program ini mencapai Rp20,9 miliar per tahun. Dengan usia pakai 7–15 tahun, estimasi nilai ekonomi dapat mencapai Rp104,3 miliar dalam lima tahun dan Rp208,7 miliar dalam sepuluh tahun.
Program apartemen ikan merupakan bagian dari Roadmap Ekonomi Biru Provinsi Sulawesi Selatan 2025–2045 yang menempatkan pemulihan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat pesisir sebagai pilar utama.
Untuk tahun 2026, DKP Sulsel akan memperkuat pendampingan, pemanfaatan, dan perawatan apartemen ikan bekerja sama dengan Pokmaswas, pemerintah kabupaten/kota, dan komunitas lokal.
“Apartemen ikan ini adalah aset bersama. Kita perlu menjaganya secara gotong royong agar manfaatnya bisa dirasakan hingga puluhan tahun ke depan,” tambah Ilyas.
Program ini telah memberikan hasil nyata bagi nelayan kecil di berbagai daerah.
Salah seorang nelayan Bulukumba, Abdul Gaffar, mengungkapkan, “Dulu kami harus melaut jauh dan lama untuk mencari ikan. Sekarang lebih cepat dapat ikan, dan ongkos BBM berkurang banyak.” (*)
- Penulis: zonakatacom
