Harga Beras Dunia Jatuh ke Level Terendah: Thailand Terpuruk!
- account_circle zonakatacom
- calendar_month Sabtu, 10 Mei 2025
- print Cetak

ZONAKATA.COM – JAKARTA – Harga beras dunia anjlok ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir akibat banjir pasokan dari negara-negara produsen utama, khususnya India.
Sementara itu, Indonesia justru tampil sebagai anomali positif dengan lonjakan produksi dan cadangan beras yang menguat.
Sejak awal 2024, harga beras internasional terus melorot, dipicu pencabutan pembatasan ekspor oleh India, eksportir beras terbesar dunia.
Harga beras parboiled India kini menyentuh titik terendah dalam 22 bulan terakhir, sementara harga beras asal Thailand dan Vietnam juga mengalami penurunan drastis, terendah dalam tiga hingga lima tahun terakhir.
Menurut Asosiasi Eksportir Beras India, harga beras 5% patah dari India diperkirakan telah mencapai titik dasar di kisaran US$390 per ton dan diproyeksi tak akan banyak bergerak sepanjang 2025 karena kelebihan suplai global.
Meski sempat naik ke US$410 per ton pada Kamis (8/5/2025), harga tersebut masih berada di level terendah sejak September 2022.
Secara global, produksi beras diperkirakan mencapai rekor 543,6 juta ton, dengan total pasokan dunia menyentuh 743 juta ton.
Sementara itu, konsumsi global hanya diperkirakan sebesar 539,4 juta ton. Kelebihan pasokan ini membuat pasar global berada dalam kondisi rapuh.
India sendiri menyimpan stok sebesar 63 juta ton per 1 April 2025, atau lima kali lipat dari target pemerintahnya.
Kondisi ini ikut menekan produsen lainnya seperti Thailand dan Vietnam, yang masing-masing diprediksi mengalami penurunan ekspor hingga 29% dan 17% pada tahun ini.
Di tengah gejolak pasar global, Indonesia justru menunjukkan performa luar biasa. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras nasional sepanjang Januari–Mei 2025 mencapai 16,62 juta ton, meningkat 12,4% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Produksi gabah diproyeksi menyentuh 28,85 juta ton, naik 3,18 juta ton dari tahun 2024.
Bahkan, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan total produksi beras Indonesia pada musim 2024/2025 bisa mencapai 34,6 juta ton (milled basis). Sementara itu, stok beras nasional saat ini hampir menyentuh 5 juta ton, angka tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Situasi ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga mulai merambah pasar ekspor. Beberapa negara tetangga telah menunjukkan minat tinggi terhadap beras Indonesia.
Malaysia, yang saat ini tengah menghadapi krisis pasokan dan penurunan rasio swasembada menjadi 56,2% pada 2023, secara terbuka menyatakan keinginan mengimpor beras dari Indonesia.
Singapura juga meningkatkan impor beras hingga 22,8%, termasuk dari sumber alternatif seperti Indonesia.
Kementerian Perdagangan mengonfirmasi bahwa beras premium dan eksotis asal Indonesia kini mulai masuk ke pasar Malaysia, Singapura, dan negara-negara ASEAN lainnya.
Sementara Indonesia menunjukkan tren positif, Thailand justru terpukul oleh kondisi harga yang rendah.
Dengan harga beras tertinggi di Asia, Negeri Gajah Putih kesulitan bersaing. Petani di Thailand bahkan sempat menggelar aksi protes pada Februari 2025 karena harga gabah domestik yang terjun bebas.
Vietnam pun mulai terdesak oleh Kamboja yang produksinya melonjak ke 7,8 juta ton dan kini ikut bersaing di pasar yang sama. Bahkan, Indonesia kini turut menjadi pesaing baru dalam lanskap ekspor beras Asia Tenggara.
Meski potensi besar terbuka lebar, jalan Indonesia menuju posisi sebagai pemain ekspor utama bukan tanpa tantangan. Konsistensi produksi, faktor iklim, infrastruktur logistik, dan diplomasi perdagangan menjadi aspek penting yang perlu diperkuat.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa prioritas utama pemerintah adalah menjaga ketahanan pangan nasional. Ekspor akan dilakukan secara selektif, setelah kebutuhan dalam negeri aman.
Di tengah pasar global yang oversupply dan harga yang stagnan, Indonesia menunjukkan kekuatan baru: stabilitas produksi, cadangan tinggi, dan potensi ekspor.
Saat negara-negara produsen lain berlomba mempertahankan pangsa pasarnya, RI justru menancapkan pondasi untuk tampil sebagai kekuatan regional baru di pasar beras ASEAN.*
- Penulis: zonakatacom
