fbpx

Produksi Anjlok Akibat Perubahan Iklim, Ini Yang Dilakukan Petani Kopi di Tana Toraja

Populer

spot_img

ZONAKATA.COM – TANA TORAJA Toraja merupakan salah satu penghasil kopi Arabika terbaik dunia. Dengan dukungan alam dataran tinggi serta kandungan mineral tanah spesifik membuat cita rasa specialty kopi Toraja sangat digemari penikmat kopi Nusantara dan manca negara.

Mayoritas kebun kopi Arabika khususnya di Tana Toraja merupakan kebun masyarakat sehingga pengelolaan secara lokalita sangat kental dengan kearifan lokal budaya Toraja.

Sayang dalam kurun waktu 4 tahun terakhir produksi kopi di Tana Toraja sangat turun dari produksi normal karena perubahan iklim.

Padahal pasar tetap menuntut produksi stabil. Saat ini harga sangat baik. Kopi kulit tanduk/gabah pada kisaran harga Rp 28.000 hingga Rp 32.000 per liter, sedangkan greenbean/kopi beras pada kisaran Rp 115.000 hingga Rp 120rb per kilogram.

Sekarang yang harus dilakukan adalah kembali ke hulu budidaya kopi, dimana perbaikan dan peningkatan produksi harus segera dilakukan. Kopi Arabika varietas Lini s-795 yang dominan di petani kemungkinan sudah tidak adaptasi terhadap perubahan iklim yang terjadi saat ini.

Produksi Anjlok Akibat Perubahan Iklim, Ini Yang Dilakukan Petani Kopi di Tana Toraja

Untuk itu, Ketua Kopinta, Albert Otto/ketua Kopinta sejak 2021, melalui demplot Kopi Cerdas Iklim Ramah Gender, Kemitraan Korporasi Petani Kopinta, Puslitkoka Jember Lestari Canada dan BPP Gandangbatu Sillanan menanam varietas Komasti dan As2K di Salubarani.

Dan hasilnya kopi ini berbuah sangat baik dalam kurun waktu tahun 2022-2023.

“Memang perlu terobosan dalam mengembalikan produksi kopi di Tana Toraja dengan varietas unggul baru yang adaptasi terhadap perubahan iklim dan pilihannya sesuai hasil demplot ini,” kata PPL Dinas Pertanian Tana Toraja, Hariadi, Sabtu (30/9/2023).

Dikatakan jika peremajaan dan perluasan kopi program Ditjenbun Kementan 100 ha di Kecamatan Gandangbatu Sillanan sudah mengarah ke varietas baru ini.

Para petani penerima program ini dihadirkan langsung dikebun demplot untuk melihat serta memahami teknologi yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan lapang, yang akan dilakukan penanam di akhir November 2023.

Pembibitan aklimatisasi ini akan dilakukan di lahan bibit Kopinta dengan model pemberdayaan wanita tani sebanyak 100 ribu bibit oleh 48 KK

“Harapannya adalah produksi akan kembali meningkat sebagai kopi specialty Toraja dan meningkatkan nilai tambah pendapatan petani,” pungkasnya.

Rls/Anjas/ZK

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Bappelitbangda Sulsel Monitoring Evaluasi dan Coaching Clinic Program Kolaborasi ‘Si Lebah Unggulan’ di Parepare

ZONAKATA.COM - PAREPARE Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Provinsi Sulawesi Selatan melakukan monitoring evaluasi yang dirangkaikan...

Berita Lain